PELANGI ITU
PELANGI ITU...
Cerita
ini tentang seorang gadis kecil 14 tahun silam...
Lampung
Hari itu
hujan mengguyur desa kami. Meski tak deras tapi cukup untuk membuat genangan
air di depan rumahku. Hari itu aku ingin keluar rumah, bermain air hujan
bersama teman-teman. Tetapi lagi-lagi ayah tak mengizinkanku. “nanti sakit”,
jawab ayah ketika aku menanyakan alasannya. Hari itu adalah hari kesekian
kalinya sejak ibu pergi meninggalkan kami untuk bekerja di negeri orang. Hanya
ada aku dan ayah di rumah, tak ada teman kecuali boneka-boneka yang sudah usang. Aku masih terus merengek berharap ayah
mengizinanku keluar. Lagipula, ini adalah hujan dimana matahari tetap bersinar
jadi debit air yang akan turun tak akan deras, dan tak akan membuatku sakit.
Kata orang jika hujan turun diiringi oleh sinar matahari, maka pelangi akan muncul setelahnya.
“aku hanya ingin melihat pelangi...”, pintaku
pada ayah.
Ayah
mendengar tapi masih tak hiraukan aku. Mataku mulai dibasahi air mata, “aku
hanya ingin melihat pelangai, yah...”.
Aku beranikan diri keluar rumah menerobos menemui teman-temanku. Kulihat dari kejauhan ayah bangkit dari kursinya dan memanggil namaku, tapi aku tak perduli. Kami berlari mencari tempat yang lebih lapang untuk menyaksikan pelangi. Aku percaya bahwa pelangi adalah tangga dari langit bagi para bidadari untuk mengunjungi dunia, para bidadari akan turun untuk mandi di telaga yang paling jernih di dunia. Aku selalu menyukai cerita tentang bidadari. Dulu bibi pernah bercerita jika kita bisa bertemu dengan bidadari maka bidadari itu akan mengabulkan permintaan kita. Aku ingin bertemu bidadari! Itulah mengapa aku ingin menyaksikan pelangi. aku berteriak kencang kearah pelangi berharap disana ada bidadari yang dalam perjalanan menuju telaga mendengarku “bidadari, jika dalam perjalananmu nanti kau temui ibuku. Aku titipkan surat ini... katakan pada ibu kapan kembali? Aku merindukannya”. Kuterbangkan surat yang sudah kubentuk menyerupai pesawat terbang agar sampai kepada bidadari.
Aku beranikan diri keluar rumah menerobos menemui teman-temanku. Kulihat dari kejauhan ayah bangkit dari kursinya dan memanggil namaku, tapi aku tak perduli. Kami berlari mencari tempat yang lebih lapang untuk menyaksikan pelangi. Aku percaya bahwa pelangi adalah tangga dari langit bagi para bidadari untuk mengunjungi dunia, para bidadari akan turun untuk mandi di telaga yang paling jernih di dunia. Aku selalu menyukai cerita tentang bidadari. Dulu bibi pernah bercerita jika kita bisa bertemu dengan bidadari maka bidadari itu akan mengabulkan permintaan kita. Aku ingin bertemu bidadari! Itulah mengapa aku ingin menyaksikan pelangi. aku berteriak kencang kearah pelangi berharap disana ada bidadari yang dalam perjalanan menuju telaga mendengarku “bidadari, jika dalam perjalananmu nanti kau temui ibuku. Aku titipkan surat ini... katakan pada ibu kapan kembali? Aku merindukannya”. Kuterbangkan surat yang sudah kubentuk menyerupai pesawat terbang agar sampai kepada bidadari.
Pelangi
itu mulai menghilang...
Ayah
datang dengan payung ditangannya. “aku harus pulang”, ucapku pelan
kearah pelangi.
“yah, pelangi itu...
membuatku semakin rindu kepada ibu”. Ayah menggenggam erat tanganku. Aku tahu ayah pun begitu, merindukan ibu seperti juga diriku.
“yah, pelangi itu...
membuatku semakin rindu kepada ibu”. Ayah menggenggam erat tanganku. Aku tahu ayah pun begitu, merindukan ibu seperti juga diriku.
***
14 tahun
sudah berlalu, aku sudah 17 tahun yah bukan lagi seorang gadis kecil. Hari ini
aku berdiri ditempat yang jauh dari ayah. dan lagi, pelangi itu muncul
mengembalikan kenanganku saat bersamamu. Jika ada dirimu disampingku saat ini
ingin kubisikkan
“yah, pelangi itu...
membuatku tak ingin berpisah denganmu”.
“yah, pelangi itu...
membuatku tak ingin berpisah denganmu”.
Bandung, 30 januari 2015
Comments
Post a Comment