Berharap Hanya Kepada Allah
Sayang
bagaimana kabarmu? Semoga Allah senantiasa menjaga dirimu dan menguatkan iman
di dadamu.
maafkan bunda karena sudah cukup lama tidak menulis lagi untukmu. Sejujurnya bunda ingin sekali menulis untukmu setiap waktu. Tetapi maafkan bunda nak, bunda masih belum bisa melakukannya.
maafkan bunda karena sudah cukup lama tidak menulis lagi untukmu. Sejujurnya bunda ingin sekali menulis untukmu setiap waktu. Tetapi maafkan bunda nak, bunda masih belum bisa melakukannya.
Nak, bunda
ingin bercerita padamu...
Kau tahu
nak, bunda yang tidak pintar ini akhirnya bisa berkuliah di ITB. Tempat yang
katanya hanya berisi orang-orang pilihan di sekolah mereka sebelumnya. Tetapi
Alhamdulillah, bunda akhirnya bisa merasakan menjadi mahasiswa disini. Bunda
tidak pintar nak, itulah mengapa bunda sangat terkejut saat mengetahui kalau
bunda akhirnya diterima disini. Bunda percaya ini adalah bagian dari doa kakek
dan nenekmu yang tidak pernah alpa dipanjatkan untuk bunda.
Menjadi
seorang mahasiswa tidaklah mudah nak, banyak tantangan dan hambatan yang kelak
akan kau temui layaknya bunda saat ini. Persaingan begitu tinggi, lingkungan
kampus yang berbeda, kau akan dipertemukan dengan teman-teman yang memiliki sifat sangat berbeda dan
bertolak belakang dengan dirimu. Kau harus pintar mengelola dan menjaga dirimu
sendiri. Jangan seperti bunda ya sayang, bunda hampir saja putus asa dan ingin
menyerah saja menghadapi kerasnya dunia kampus.
Nak, beberapa hari yang lalu bunda mendapatkan informasi
tentang beasiswa dari pihak kampus. Bunda dinyatakan tidak lulus pada seleksi
tahap 2. Seketika bunda limbung, bunda takut, khawatir, dan perasaan tidak
menentu lainnya, bunda tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana tidak begitu,
bunda berada pada fakultas dengan biaya kuliah sebesar Rp20.000.000/semester (6
bulan). Sedangkan biaya perkuliahan bunda dibantu oleh kakak yang bekerja
serabutan. Kakek dan nenekmu sudah tua sayang, mereka sudah tidak bisa bekerja
lagi, tidak pantas jika bunda meminta biaya pada mereka justru seharusnya bunda
yang memberi mereka biaya. Pada hari berikutnya bunda mendatangi pihak kampus
untuk menanyakan hal tersebut, beruntung masih ada tahap ke 3. Bunda harus
mengikuti seleksi wawancara lagi dan menemui beragam kesulitan-kesulitan
lainnya. Bunda bersedih nak, terkadang bunda mempertanyakan mengapa ujian
selalu datang bertubi-tubi dan mengapa harus bunda yang mengalami hal seperti
ini?. Tetapi bunda harus berprasangka baik pada ALLAH, mungkin Dia hendak melihat usaha bunda,
mungkin Dia sayang dan merindukan bunda untuk bersimpuh di hadapannya. Akhirnya
bunda mengerti sayang, bahwa tidak pantas rasanya bunda berharap pada manusia
yang tidak memiliki apa-apa. Bunda jatuh sejatuh-jatuhnya saat membiarkan
harapan bunda kepada manusia yang amat sangat miskin. Berharaplah hanya kepada
ALLAH, karena hanya Dialah yang maha kaya memiliki segalanya dan saat Dia
menginginkan sesuatu Dia hanya berkata ‘‘Jadilah, maka terjadilah...‘‘
Nak, bunda berjanji sayang. Kelak bunda akan
memperjuangkan pendidikanmu. Bunda akan berusaha sekuat tenaga bunda untuk
memberikan fasilitas yang baik untukmu. Bunda tidak ingin sayang, kelak engkau
mengalami hal yang sama seperti bunda. Berjuang, tertolak, dianggap sebelah
mata oleh orang-orang. Kamu hebat nak, kamu bisa berkarya melebihi bunda. Bunda
percaya itu. Berkaryalah sayang, tebarkan manfaatmu untuk mereka yang dhaif dan
orang-orang yang membutuhkanmu. Disetiap rezekimu selalu ada sebagian rezeki
orang lain yang Allah titipkan melalui dirimu. Berbagilah nak, Jangan sombong sayang, ingatlah nak itu semua
hanya titipan Allah yang setiap saat bisa saja diambil olehNya. Selamat
berjuang anakku. Sampai bertemu di dunia yang yang sebenarnya nanti.
Bandung,
22 september 2016
Elisa kusuma
wardani

Comments
Post a Comment